Melawan Kekerasan dengan Kekuatan Perempuan

"Lembut Bukan Berarti Lemah, Dalam Kelembutan Tersimpan Kekuatan”
Women Self Defense of Koporyu (WSDK) lahir dari keprihatinan terkait makin tingginya tindakan kekerasan terhadap perempuan. Atas dasar itulah WSDK didirikan, digagas oleh Shihan Sofyan Hambaly, seorang ahli beladiri Karate dan Jujitsu (DAN VI). Program pelatihan beladiri praktis WSDK dikemas semudah mungkin. Sehingga memungkinkan para perempuan dari berbagai usia bisa menerima pelatihan dengan sangat mudah. Teknik yang diberikan adalah teknik-teknik yang praktis, lembut namun mematikan.

Istri Wakil Bupati Pasuruan, Endah Prayuda (berkerudung coklat). foto by frida
Acara workshop WSDK kali ini dibuka oleh mbak Shinta Ratna Sari sebagai moderator acara, beliau memperkenalkan kepada seluruh peserta bagaimana sebenarnya WSDK ini bisa menjadi bekal untuk perempuan saat sedang menghadapi bahaya. Beliau menjelaskan bahwa semua yang ada didalam tas wanita juga bisa menjadi senjata seperti tissu, botol air mineral, syal, kartu atm bahkan tas. Belajar teknik-tenik WSDK ini bukan untuk menjadi jagoan, tetapi lebih untuk menjaga diri dari berbagai bahaya disekitar kita. Saat kita dihadapkan oleh suatu bahaya kita hanya mempunyai pilihan ingin selamat atau menjadi korban, jika ingin selamat maka harus tahu tekniknya. Acara ini juga dihadiri oleh istri wakil bupati Pasuruan, Endah Prayuda yang juga mengikuti sesi latihan bersama peserta workshop lainnya.
Ada beberapa perempuan dari tim WSDK yang menginspirasi yaitu Ibu Ricka Ratna.S.Julianty (Advance WSDK) beliau adalah survivor kanker, dengan semangat dan tidak pantang menyerah beliau sampai saat ini masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk berbagi ilmu kepada perempuan agar bisa menjaga apa yang diberikan Tuhan, karena perempuan itu hadir ketika perempuan kembali menemukan kekuatan dirinya.

Ricka Ratna.S.Julianty (Advance WSDK). foto by frida
Beda lagi dengan istri Kapolres Pasuruan, dr Wike frindya, salah seorang anggota Woman Self Defense of Koporyu (WSDK), beliau tidak mau dianggap lemah sebagai perempuan karena itu dia ingin belajar bela diri. “Anggota tubuh kita adalah senjata kita. Yang kita bawa pun bisa menjadi senjata,” ucap perempuan anggun ini.

Dokter Wike frindya. (foto by frida)
Sementara itu, Kang Eko Hendrawan, ketua workshop WSDK, menuturkan bahwa bela diri ini bertujuan untuk membekali perempuan melindungi diri. Berbagai jurus dengan nama yang mudah diingat diajarkan oleh kang Eko, seperti teknik cubit, bercermin, menggaruk, kepret dan lain-lain. “Perempuan bisa memberikan perlindungan terhadap dirinya jika meyakini bahwa dirinya memiliki kekuatan,” kata pria berkacamata ini.

Kang Eko memperagakan beberapa teknik bela diri kepada pesertaworkshop. (foto by frida)
“Mengapa kita harus membekali diri dengan ilmu bela diri, karena saat ini kekerasan sudah menjadi budaya, jumlah kekerasan semakin meningkat, dengan tingkat resiko yang tinggi, karena itu sudah saatnya perempuan harus bersikap” ujar kang Eko.
Di WSDK ini yang paling saya suka, saat berlatih tidak perlu menggunakan seragam khusus, bagi perempuan yang memakai rok panjang lengkap dengan kerudungpun bisa mengikuti latihan ini dengan aman dan nyaman, karena gerakan-gerakannya sangat lembut. Jadi bisa tetap menjadi diri kita sendiri.

Pake rok panjang dan berkerudung, gak masalah tuuu..saya tetep bisa berciat ciat ria…:). (foto by frida)

Para Peserta workshop WSDK di Surabaya. (foto by WSDK)
Pada akhirnya semua kembali pada Tuhan, bahwa kita harus bisa meyakini bahwa kita adalah makhluk Allah yang kuat, karena satu hal yang tidak bisa kita tinggalkan saat kaki akan melangkah keluar rumah, yaitu DOA…karena dengan DOA bisa merubah Takdir seseorang. Semua yang diberikan oleh-Nya adalah karunia yang harus kita jaga, saat tubuh kita mendapat sinyal bahaya, sebagai perempuan kita harus bisa membacanya dan akhirnya bisa melindungi apa yang diberikan oleh-Nya
FILLER WSDK DENGAN FIGHTING (video by wsdk)