Nak…Kau Terlahir Istimewa (1)

Masih ingat dibenak saya bagaimana saat saya melahirkan anak saya, Salwa Refa Wibowo, tanggal 24 November 2008. Usia kehamilan saya hanya selama 8 bulan saja, baby saya saat itu terpaksa harus dilahirkan secara prematur, karena saya sendiri menderita Hypertensi (tekanan darah tinggi), tensi saya selama kehamilan tidak pernah normal, selalu diatas 150.

Pada akhirnya pada usia kehamilan 8 bulan, saat saya sedang mandi, nafas saya sesak, yang saya rasakan saat itu saya hanya bernafas dari lubang hidung sampai ke tenggorokan saja, rasanya…tidak usah dibayangkan, sesaknya minta ampun.
Sampai di Rumah Sakit, saya langsung dibawa ke Ruang persalinan, dimana banyak calon-calon ibu yang akan melahirkan ditempatkan disana, tentu saja saya sendiri juga mendengar teriakan-teriakan ibu yang akan melahirkan karena kesakitan (sebenarnya menambah stress saya juga sih). Oksigen langsung diberikan pada hidung saya, sedikit lega rasanya setelah dipasang oksigen. Disebelah saya ada mas Bayu (suami), mama, bapak. Dokterpun segera datang memeriksa saya, dokter saat itu hanya mengatakan  "ya begini ini bu resikonya bila ibu hamil menderita Hypertensi”. Saat itu juga suami dipanggil ke ruangan Dokter.
Suami segera menemui saya setelah keluar dari ruang dokter sambil berkata. “Bun, operasi ya sekarang…harus segera dilahirkan anaknya…anaknya juga udah kuat kok”. Tentu saja saya kaget mendengar apa yang dikatakan suami saya itu.
Selang beberapa lama para suster datang dengan membawa dua suntikan, suster bilang “buk ini suntikan untuk melebarkan pembuluh darah, rasanya akan panas, akan saya masukkan cairannya sedikit demi sedikit ya bu, ini ada 25 cc, jadi tolong nanti bu Frida terus dikipasi ya bu” sambil berkata pada mama saya.
Saat itu saya tidak mengerti maksud kata ‘panas’ dari suster itu.  Dan begitu suntikan itu masuk ke tubuh saya, Ya Allah…panasnya tidak bisa kutahan, rasanya didarah saya sedang dimasukkan api yang sengaja untuk membakar darah saya agar mendidih, sampai saya sendiri bisa merasakan panas pada lidah dan mata saya.
Saya terus selalu minta dkipasi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Begitu juga dengan suntikan 10 cc terakhir, saya merasakan kembali panas didarah saya mengalir seperti membakar tubuh saya, mata, lidah kepala semua terasa terbakar. Akhirnya suntikan yang sangat menyiksa itu selesai sudah prosesnya, persiapan infus dan segala perlengkapan untuk operasi pun segera dilakukan. Untuk pertama kalinya saya mendengar tangisan anak saya, begitu keras tangisannya.
Dalam proses penyembuhan pasca operasi caesar, dalam kondisi belum bisa duduk, tiba-tiba suster datang membawa anak saya dan mengatakan sesuau yang membuat saya bingung “siapa yang akan mengantar bayi Salwa ke RSI nanti?”, disitu saya baru tahu dari mama dan suami saya bahwa anak saya harus segera dibawa ke RSI untuk dilakukan operasi kecil, tapi hati seorang ibu tidak berkata demikian, saya sudah merasa ada yang tidak beres dengan bayi saya.
Saya yang sebelumnya belum bisa duduk langsung memberanikan diri duduk dengan cepatnya bahkan saya sampai sekarang tidak tahu dari mana saya punya kekuatan untuk bisa duduk. Saya ciumi anak saya sambil saya bisikkan “yang kuat ya nak, refa harus kuat, bunda berdoa disini”, tak terasa air mata saya menetes. Suster itu datang lagi dan mengambil anak saya kembali dan saya hanya bisa melihatnya sampai suster itu hilang dari penglihatan saya. Suami saya membisikkan sesuatu sebelum dia pergi mengantar anak saya “refa akan baik-baik saja bun…” air mata kami berduapun tak bisa kami tahan lagi.
Sudah seminggu setelah anak saya dibawa ke RSI, bayi saya tidak langsung di operasi karena ternyata dia harus di inkubator dulu karena tubuhnya menguning.
Operasi pun dilakukan, saya sendiri tidak menemani di RSI karena saya belum bisa jalan dengan lancar pasca operasi caesar. Tidak henti-hentinya lantunan doa saya ucapkan dari mulut dan hati saya, tak usah ditanya lagi bagaimana perasaan saya waktu itu, cemas yang amat sangat.
Saya mendapat kabar bahwa operasi berjalan dengan lancar, penyakitnya sudah diambil, bahkan saya sendiri tidak tau sebenarnya anak saya ini sakit apa, karena minimnya informasi yang saya dapatkan dari orang-orang disekitar saya waktu itu. Seminggu sudah dan saatnya dokter membuka perban pada luka operasi bayi saya, dan hasilnya sangat mengejutkan, jahitan pada lukanya tidak atau belum kering seharusnya dengan waktu seminggu pasca operasi jahitannya bisa langsung kering.
Begitu mengejutkannya lagi dokter bilang, jahitan anak saya harus dibuka lagi untuk dilakukan jahitan yang baru dan itu harus melalui bius total lagi. Operasi ganti jahitanpun sudah dilakukan dan hasilnya sungguh mengejutkan lagi, jahitan tidak berhasil kering lagi, saya sangat-sangat terkejut.
Hingga dokterpun merujukkan anak saya ke Dokter bedah plastik, Dr. Ruby. Kali ini Dr. Ruby mengatakan hal yang agak membuat saya lega, bayi saya tidak perlu lagi melakukan operasi ganti jahitan lagi, cukup diberikan salep pada lukanya, salep itu berfungsi untuk menumbuhkan jaringan jaringan kulit baru.
Dalam selang beberapa waktu saya akhirnya mulai penasaran dengan penyakit anak saya ini, dengan memberanikan diri membuka GOOGLE dan mulai menulis “penyakit tulang belakang pada bayi yang baru lahir”, betapa terkejutnya saya, disitu tertulis istilah Meningocele atau dikenal juga dengan sebutan  spina bifida (Latin: tulang belakang terbuka) adalah sebuah jenis perkembangan kelainan bawaan dan bisa menyebabkan hal yang sangat fatal jika tidak ditangani dengan benar, kemungkinannya bisa hidrosefalus, kelumpuhan pada anak atau terganggunya fungsi BAB dan BAK pada anak tersebut. Saya hanya mengira-ngira waktu itu apakah ini yang dialami anak saya, hati saya berdegup tidak karuan. Saya print informasi itu dan dari rumah saya berikan ke mama saya, mama saya hanya diam saja sebentar dan menjawab ‘mungkin saja da’.
Keesokan harinya saat saya pergi ke RSI tak sabar kaki saya ingin segera menemui dokter atau suster jaga siapapun yang bisa saya korek informasi tentang apa yang dialami anak saya.
“Suster apakah yang dialami anak saya sekarang ini penyakitnya yang dinamakan Meningocele itu? Saya tidak mendapat informasi dari orang –orang disekitar dan saya mencari tahu sendiri melalui internet , mungkin mereka takut menambah pikiran saya, tapi saya ingin tau sus. Dan suster itupun menjawab “benar bu…anak ibu memang terkena Meningocele, sabar ya bu …banyak berdoa saja”. Tak banyak bicara saya mendapat jawaban itu, lemas dan tidak bisa berfikir lagi. (bersambung)

1 Comment

  1. a friend of mine in NZ, fed her son and he looks fat, as the mother always give junk, and chalecoto. so this is not because of the nursery or look after child by their own. but it is depend on how the body absorb the foods. My son went to the nursery and he is healthy and not fat at all.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*