Rokok Harus Mahal Untuk Melindungi Anak Kita

sumber: http://www.dailymail.co.uk/

 

“Kondisi anak-anak di Indonesia adalah anak yang belum cukup terlindungi sebenarnya dari hukum, supaya mereka dilindungi dari dampak atau konsumsi rokok.”

 

Apakah Anda masih ingat dengan Ardi Rizal balita 18 bulan yang kecanduan menghisap 40 batang rokok sehari? Bila tidak diberi rokok, Ardi bisa melampiaskan kemarahannya dengan membenturkan kepalanya ke tembok. Bahkan kisah Ardi ini sempat mencuat dan menghiasi berbagai media. Mirisnya lagi, aksi kecanduan rokok oleh Ardi ini karena bapak Ardi sendirilah yang sering menjejali Ardi rokok hingga kecanduan. Bahkan, untuk menghentikan kebiasaan merokok Ardi, beberapa organisasi membantu bocah tersebut hingga bisa berhenti merokok dengan menerapkan pola hidup sehat. Tentu saja hal ini tidak mudah, butuh perjuangan yang super keras dari tim agak bisa menghentikan kecanduan tersebut.

Setelah Ardi apakah berhenti sampai disitu saja kisah bocah kecanduan rokok????? Jawabannya TIDAK…beberapa kisah bocah kecanduan rokok juga terdapat di beberapa wilayah di Indonesia. PR besar bagi bangsa dan masyarakat memerangi kecanduan rokok pada anak. Bukan hanya pemerintah tapi orang-orang terdekat mempunyai peranan penting untuk menjauhkan anak-anak kita dari bahaya rokok ini.

Karena itulah saat saya menyimak live streaming fan page Kantor Berita Radio KBR, sebuah serial Talkshow #RokokharusMahal Ruang Publik KBR yang diselenggarakan untuk mengingatkan harga rokok yang murah membuat konsumsi rokok makin tak terkendali, termasuk pada anak-anak dan keluarga miskin. Dengan 3 Narasumber yaitu Dr Santi Martini,dr. M Kes– Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga,  Lisda Sundari— Ketua Yayasan Lentera Anak Indonesia, Dr Sophiati Sutjahjani, M Kes —Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur.

 

live streaming fan page Kantor Berita Radio KBR

 

Sebagai Ketua Yayasan Lentera Anak Indoenesia Mbak Lisda menyampaikan “Kondisi anak-anak Indoenesia saat ini yang belum cukup terlindungi dari hukum, untuk supaya mereka sebenarnya dilindungi dari dampak atau konsumsi rokok. Lentera anak melihat bahwa, salah satu yang menyebabkan prevalansi perokok anak makin meningkat karena, keterjangkauan anak-anak terhadap rokok itu sangat leluasa. Kalau kita berbicara keterjangkauan kita berbicara soal keberadaannya, maksudnya ketersediaan rokoknya, kedua harganya yang murah, dan ketiga kemudahan untuk membelinya. Jadi, siapapun anak-anak di Indonesia itu tidak ada halangan untuk mereka membeli rokok.

Selain soal harga, yang sering kita dan anak kita liat tiap hari di televisi adalah iklan-iklan bersliweran memperlihatkan role model merokok dengan bebas disembarang tempat. Tapi salah satu yang menjadi pemicu dan menjadi salah satu penyebab, kenapa prevalansi merokok terus meningkat, karena rokok itu mudah dijangkau oleh anak-anak. Kalau misalnya, ada contoh yang mereka lihat, orangtua, Paman atau guru yang merokok, tapi kalau mereka tidak bisa menjangkau rokok, tidak bisa membeli, tidak dijual untuk anak-anak, itu akan sangat menghalangi mereka untuk bisa menjangkaunya, tapi situasi di Indonesia itu sebaliknya. Anak-anak bisa, tersedia sangat banyak, ada miliaran batang, rokok yang diproduksi oleh perusahaan rokok. Kemudian harganya murah, karena mereka bisa membeli dengan harga seribu sampai 2 ribu, bahkan survei yang dilakukan oleh Lentera Anak pada tahun lalu, Industri rokok mempromosikan rokok dengan menyebutkan harganya per batangan. Seribu per batang, atau misalnya 12 ribu per 12 batang. Jadi promosinya sudah promosi harga batangan. Jadi gini, kalau misalnya kita belanja ke suatu tempat, terus kita kesana dengan harganya yang dicantunkan  dengan tempat yang tidak mencantumkan harganya, bisasanya dorongan untuk membeli itu yang ada harganya, karena dia bisa langsung ngukur berapa kantongny, gitu. Itu situasi di Indonesia” terang mbak Lisda.

Dr Sophiati Sutjahjani, M. Kes. sebagai Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, juga menyampaikan bahwa hasil survey kreditasi Puskesmas yang harus berkeliling di seluruh puskesmas di Indonesia, termasuk di klinik salah satu indikator yang harus dilihat itu adalah indikator keluarga sehat. Indikator keluarga sehat itu, ada 12 indikator salah satunya tidak merokok. Meski survey ini belum dilakukan pada semua desa, tapi hasilnya di bawah 50 persen yang memenuhi 12 indikator sehat tadi. Hal yang paling berat adalah masih banyaknya yang merokok dalam satu keluarga. Pada UU peraturan pemerintah, SKB Menteri, tentang kawasan tanpa rokok, itu sudah jelas, kawasan tanpa rokok itu ada di tempat ibadah, tempat pendidikan, dimana memang masih ada para pendidik yang merokok. Jadi itu yang akan dilihat oleh murid-murid. Murid-murid itu ya dari yang kecil, karena itu memang Muhammadyah, melalui Fatwa yang sudah dikeluarkan pada tahun 2010, menggerakkan termasuk kami dari Aisyiyah yang merupakan salah satu Ortum (Organisasi bagian dari Muhammadyah), itu untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan. Salah satunya adalah membekali kepada guru-guru. Jadi kan ada di amal usaha, kalau keluarga itu melalui majelis kesehatan dari pimpinan pusat Aisyiyah, pimpinan wilayah Aisyiyah, pimpinan daerah se Indonesia, kemudian pimpinan cabang yang di kecamatan, pimpinan ranting yang di kelurahan, itu melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Salah satunya adalah dakwah untuk menghentikan rokok ini.

Jadi ini contohnya adalah pada guru TK, guru TK didorong untuk mempunyai ketrampilan mengajarkan kepada anak-anak didiknya di TK, termasuk juga yang di SD, untuk menyampaikan pesan, terutama murid wanita, biasanya kan murid wanita dekat dengan ayahnya, itu menyampaikan pesan kepada ayahnya

“ Ayah, jangan merokok, ayah” “Ayah…aku sayang ayah”.

Jadi itu hal- hal yang diperkenalkan kepada murid-muridnya, karena di Indonesia ini perokok sebagian besar masih laki-laki ya, sehingga pesannya itu kepada anak perempuan, dan ternyata itu cukup berhasil.

Pada kesempatan tersebut Dokter santi juga memamaparkan sebuah data “Seluruh Indonesia berdasarkan Riskesdas 2007 dibandingkan dengan yang terkahir Riskesdas 2013, masih belum banyak berubah. Kemudian kalau kita lihat sebelumnya berdasarkan sensus tahun 1995, kemudian kita lihat lagi Riskesdas tahun 2007 itu juga belum banyak berubah angkanya, malah bahkan pada kelompok umur tertentu itu meningkat. Jadi kalu kita lihat usia, kalau di Riskesdas kan 10 tahun ke atas surveinya, itu sampai usia kurang dari 15 tahun angkanya masih sekitar 0,7; 0,5 masih belum berubah, kan 15 tahun dan 24 kalau itu masih dikategorikan anak ya, itu malah meningkat sampe 20 kali lipat, jadi kalau kita lihat kan harganya juga masih sekitar segitu ya harga rokok, ini Lentera anak punya datanya tentang katalog harga rokok. Kalau kita lihat faktanya pun mungkin kita juga mengakui kan? Harga rokok itu jauh lebih murah daripada harga pisang goreng dan telur. Bayangkan! Jadi kita bisa melihat betapa masalah akses maupun avaibility dari rokok itu sangat mudah dijangkau oleh anak-anak dengan  uang saku yang sangat kecil. Kita punya surveinya tentang uang saku itu” jelas beliau.

Seperti yang Dokter Shanti paparkan cara berhenti merokok itu sebenarnya ada 2, pertama dari diri sendiri dan kedua secara sistem eksternal itu mendukung. Jadi dari faktor internal memang yang bersangkutan, niat untuk berhenti merokok, tapi juga yang kedua ada sistem yang mendorong orang untuk tidak merokok. Kita bisa menciptakan sistem itu dan itu kewajiban kita semua. Ada keharusan yang diperankan oleh negara, karena UUnya ada, UU no 36 tahun 2009, kemudian PPnya juga ada, Perdanya juga harus ada. Lewat UU maupun PP itu, pemerintah daerah harus buat peraturan seperti itu.

 

lindungi anak kita

Jadi kenapa rokok harus mahal?

Tentu semua yang kita harapkan adalah bisa melindungi anak-anak kita dari bahaya paparan rokok. Dampak rokok itu sekarang semakin bertambah, mengakibatkan stunting, dan itu menjadi salah satu problem terbesar. Stunting itu selain pendek ternyata juga kecerdasan ikut menurun, bagaimana anak bangsa kita nanti, kecil dan tidak pintar.

Apa yang anak kita lakukan adalah apa yang sebenarnya sudah kita contohkan. Untuk menghindari anak-anak kita dari bahaya rokok itu kita mulai dari dalam rumah kita. Kita ciptakan rumah sehat untuk anak-anak kita. Jika kita tidak bisa menghindari tontonan pada televisi yang setiap hari bersliweran tentang iklan rokok yang begitu bebas, beri pengertian pada anak-anak kita bagaimana bahayanya merokok bagi tubuh kita. Jadilah role model pertama yang bisa dicontoh anak-anak kita bahwa orang tua kita tidak merokok, pasti anak kita juga akan mengikutinya. Beri kegiatan ekstrakurikuler yang mengharuskan anak-anak kita menjauhkan diri dari bahaya tembakau tersebut seperti menari, basket, renang sehingga mereka mempunyai kewajiban pada diri mereka sendiri bahwa mereka harus menjaga tubuh mereka agar selalu hidup sehat, dan akhirnya mereka akan selalu berkata TIDAK terhadap setiap godaan yang membahayakan tubuh mereka.

 

 

 

 

 

 

 

6 Comments

  1. Absolutely agree .. dulu Bapaknya anak-anak perokok berat,trus sakit kena hepatitis tapi yg virusnya tidak menular.Akhirnya berhenti total sampai sekarang..tapi lingkungan sekitar kita dan anak2 kita yg membuat kita jadi perokok pasif yg lebih berbahaya akibatnya daripada yg aktif..i wish there is no cigarette in this world,whatever the reason is

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*