Uncategorized

Tantangan Pemberantasan Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas

foto by herminahospital.com

Senin, 31 Mei 2021 saya berkesempatan mengikuti talk show live youtube di channel BERITA KBR, dengan nara sumber Komarudin, S.Sos.M.Kes (Wasor Kusta Kab. Bone) dan Dr. Rohman Budijanto SH MH (Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi-JPIP Lembaga Nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah)  dan dipandu oleh Ines Nirmala (Host KBR) dengan Tema ‘Geliat Pemberantasan Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas’.

Membahas kusta memang selalu menarik buat saya, karena sewaktu kecil saya pernah mempunyai tetangga penderita kusta. Beliau jarang sekali keluar rumah bahkan dalam seminggu belum tentu beliau menampakkan diri. Bahkan membuka pintupun tidak pernah, karena masyarakat sekitar sudah terlanjur membentuk stigma yang buruk tentang penyakit ini. Pengalaman saya sewaktu kecil inilah yang membuat saya selalu penasaran dengan penyakit ini, kenapa penderita kusta selalu mendapat perhatian sendiri di lingkungan masyarakat.

Dampak sosial yang dialami penderita kusta seringkali menjadi sumber permasalahan dalam kehidupannya yaitu kecacatan pada tubuh penderita yang membuat sebagian besar masyarakat merasa jijik dan umumnya akan menyebabkan penderitanya dijauhi, dikucilkan oleh masyarakat, dan sulit mendapatkan pekerjaan.

Stigma tentang penyakit kusta masih menjadi hambatan bagi penderitanya dalam proses kembali kekeluarga, pekerjan, dan kehidupan sosial yang lebih luas. Apalagi  mitos salah yang berkembang meninggalkan stigma mendalam bagi penderita kusta dan membuat banyak kasus terlambat didiagnosis dan diobati, seperti mengganggap kusta ini penyakit kutukan, penyakit orang miskin, penyakit orang dewasa dan manula, penderita kusta perlu dikucilkan. Hal-hal seperti ini membuat penderita kusta tidak dapat memainkan peran sosial, bahkan yang lebih parahnya menjadi manusia yang terbuang.

Penyebab Kusta

Sebelum stigma tentang kusta ini menjadi lebih buruk di masyarakat tidak ada salahnya jika saya ingin mengajak teman-teman untuk mengenal kembali apa sebenarnya kusta ini dan bagimana jika kita bertemu atau berhadapan secara langsung dengan penderita kusta.

Kusta adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernafasan. Bakteri ini menular dari satu orang ke orang lain melalui percikan cairan dan saluran pernafasan, yaitu ludah atau dahak, yang keluar saat batuk atau bersin.  Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab kusta tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah, juga bakteri ini membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Perlu dicatat, seseorang dapat tertular kusta jika mengalami kontak dengan penderita dalam waktu yang lama. Seseorang tidak akan tertular kusta jika hanya karena bersalaman, duduk bersama, atau bahkan berhubungan seksual dengan penderita.

Gejala Kusta

Lalu, seperti apa gejala atau ciri penyakit kusta yang harus diwaspadai? Berikut beberapa gejala atau ciri yang harus teman-teman ketahui:

  • Munculnya bercak pada kulit

Munculnya bercak putih pada kusta seringkali diabaikan dan kerap dianggap penyakit kulit panu. Padahal sebenarnya terdapat perbedaan di antara keduanya. Jika bercak putih pada panu akan terasa gatal, tetapi jika bercak putuh pada kusta justru mati rasa atau tidak terasa gatal sama sekali.

  • Berkurangnya fungsi peraba
  • Munculnya bisul yang tidak menimbulkan nyeri di telapak kaki
  • Pembengkakan atau benjolan tanpa nyeri di wajah atau daun telinga.
  • Muncul luka tapi tidak sakit.

Dari beberapa gejala diatas, kita jadi tahu bakteri kusta ini menyerang saraf teruatama  menyerang otot tangan dan kaki menjadi lemah bahkan terjadi kelumpuhan. Masalah mata yang dapat menyebabkan kebutaan serta mata menjadi kering dan jarang mengedip, biasanya terjadi sebelum muncul tukak.

Penanganan Kusta

Lalu bagaimana penanganan yang tepat bagi penderita kusta? Biasanya penderita akan diberikan kombinasi antibiotik sebagai langkah pengobatan selama enam bulan sampai dua tahun. Pengobatannya pun harus berdasaran jenis kusta untuk mementukan jenis, dosis antibiotik dan durasi pengobatan.

foto by www.ui.ac.id

Penanganan di Masa Pandemi COVID-19

Indonesia masih belum bebas kusta. Bahkan Indonesia termasuk negara degan peringkat ketiga total kasus kusta terbesar di seluruh dunia. Pemerintah menargetkan untuk memberantas kusta secara menyeluruh di Indonesia pada 2020. Nyatanya, penulatan kusta masih terjadi dan angka temuan kasus barunya masih stagnan sejak 10 tahun terakhir. Lebih lagi, di tengah pandemi Covid-19, kampanye pencegahan dan pengendalian kusta di sejumlah daerah menjadi terhambat. Tapi bukan berarti penanggulangan kusta berhent sama sekali.

Bisa dibayangkan,  dimasa pandemi ini mereka akan semakin terabaikan dan jauh dari perhatian publik karena fokus dan program pemerintah semua dialihkan kepada program dan upaya pencegahan dan pengendalian pandemi COVID-19.

Seperti yang disampaikan oleh Bapak Komarudin tentang upaya deteksi dini dan penemuan kasus kusta di Kabupaten Bone saat pandemi ini.  “Upaya deteksi di awal pandemi memang terjadi hambatan,  karena fokus pada penanganan pandemi COVD-19. Akan tetapi, program kusta harus tetap berjalan, karena apabila penanganan kasus kusta dihentikan dikhawirkan terjadi penularan pada masyarakat, karena itu kegiatan tetap dilakukan dengan melibatkan kader petugas kesehatan seperti bidan desa untuk melakukan pendataan pada warga masyarakat yang mengalami bercak-bercak, lalu ditindak lanjuti oleh petugas PUSKESMAS dan dilakukan pemeriksaan pengobatan di rumah pasien atau di Balai Desa selama kita memperhatikan protokol kesehatan”  ujar Bapak Komarudin menjelaskan.

Komarudin, S.Sos.M.Kes (Wasor Kusta Kab. Bone)

Untuk mencegah kecacatan atau disabilitas akibat kusta, setiap penderita kusta juga harus terus melakukan pemeriksaan 3 hal yaitu pada tangan, mata dan kaki.  Yang masih berobat harus rutin melakukan evalusi fungsi saraf. Hal-hal tersebut adalah tindakan pencegahan disabilitas akibat kusta ini, agar penderita tidak semakin terpuruk.

Penanganan kusta di Indenesia sendiri saat ini bisa tercapai bila tersedia sebuah kondisi yang inklusif di masyarakat, artinya penderita kusta bisa hidup tanpa diskriminasi dan stigma dan penderita bisa menjalani dan menikmati kehidupannya secara bermartabat.

Terkait dengan merangkul kembali penderita kusta di masyarakat Bapak Rohman selaku Direktur Eksekutif The Jawa Pos, menjelaskan bagaimana rekrutmen  bagi karyawan disabiltas karena kusta.

“Dalam hal rekrutmen kita tidak pernah mempermasalahkan mereka disabilitas atau orang yang pernah menderita kusta. Kami juga tidak pernah menanyakan kepada pendaftar tentang kondisi fisiknya, yang penting dia bisa bekerja sesuai pos yang diinginkan. Kami juga sudah pernah mempekejarkan half blind bagi kita itu tidak masalah karena kami membutuhkan tenaga yang kompeten dibidangnya” jelas Bapak Rohman.

Dr. Rohman Budijanto SH MH (Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi-JPIP Lembaga Nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah) 

Perlunya memberdayakan OYPMK  untuk berkreasi dengan menghasilkan karya atau produk kerajinan dari bahan daur ulang yang bernilai jual dan diberikan pelatihan bagaimana memasarkan produk tersebut secara online. Perhatian dan pemberdayaan OYPMK seperti ini harus lebih kuat, hal ini mampu membantu para mantan penderita kusta lebih mandiri, sekaligus menghapus diskriminasi masyarakat.

Untuk itu teman-teman kita harus ikut serta menyebarkan paham agar tidak terjadi diskriminasi terhadap pasien kusta ini, agar mereka berperan aktif di kegiatan di kemasyarakatan. Mari Temukan…Periksa… Obati…hingga Kusta ini tuntas di Indonesia.

 908 total views,  3 views today

23 Comments

  • Talitha

    Mbak jujur saya itu juga minim banget ini pengetahuan soal kusta. Apalagi penyebabnya karena bakteri. Emang namanya menjaga kebersihan itu penting banget, terutama minimal cuci tangan pakai sabun. Langsung tandain deh, Ciri-ciri penyakit ini, semoga kita terhindar dari penyakit yang berbahaya begini, aamiin

  • FIRSTY UKHTI MOLYNDI

    kusta dianggap penyakit yang berbahaya dan menular. tapi kalo udah sembuh sebenarnya gak papa ya berteman akrab.. hikz stigma orang akan penderita kusta sama kayak disabilitas,

  • Maria Soemitro

    saya pikir kusta udah hilang dari bumi Indonesia

    penyakit jadul kan tuh? udah ada sejak zaman Romawi

    ternyata penyebabnya stigma ya?

    Syukurlah sosialisasi diadakan agar kusta benar benar hilang dari bumi Indonesia

  • Sumiyati Sapriasih

    penyakit kusta bisa disembuhkan, obatnya ada di puskesmas, jadi hilangkan stigma dan diskriminasi untuk orang yang pernah mengalami kusta, aku juga kemaren ikut webinar kbr tentang geliat pemberantasan kustadli youtube berita kbr

    • Moch. Ferry

      Penanganan kusta butuh kerjasama semua pihak agar maksimal, pola hidup bersih, fasilitas kesehatan, dan tim kesehatan, pemerintah menjadi tanggung jawab saling mendukung.

  • Heizyi

    Baru tahu kalau ternyata penyakit kusta tih dibilang penyakit kutukan. Pantes aja dari banyak penderitanya mesti dikucilkan hingga diasingkan.

    Padahal semakin digituin, kan semakin hancur mentalnya. Bukannya sembuh malah double double sakitnya. Kasian

  • Annie Nugraha

    Setelah baca ini berasa banget kalau pengetahuan saya tentang kusta tuh minim banget. Jarang ada pembahasannya soalnya. Jadi sumber informasinya juga minim. Ternyata kita gak perlu takut akan penyakit ini ya. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, penderita bisa segera diselamatkan.

  • Rania Fardyani

    Aku kira kusta itu kayak penyakit kulit yang kalau kita salaman bisa nular looh
    ternyata justru dari percikan cairan tubuh penderita

    Bener deh, kita harus banget jaga kebersihan tubuh biar semua penyakit menular pada jauh-jauh

  • Fenni Bungsu

    Penanganan yang cepat memang perlu banget ya, agar bisa disembuhkan. Makanya pemahaman tentang gejala, pencegahan dan pengobatan kusta sebisa mungkin diketahui banyak orang ya

  • Rhoshandhayani

    seringkali orang yang terkena kusta ini gak tau kalau dia kena kusta
    dikiranya panu
    padahal beda
    kalau panu itu bercak putih yang gatal
    justru kalau ada bercak putih tapi gak gatal, ya itu yg bahaya, itu kusta
    kalau bukan kita yang peka untuk nanyain, ya siapa yang peduli?

  • diane

    Tadinya aku kira kusta tuh udah tereliminasi loh..ternyata belom ya.. Apalagi kena pandemi..semakin terabaikan.. Yah semoga target eliminasinya tercapai ya.. dan penanganan kusta juga lebih mendapat perhatian

  • Susindra

    Salah satu yang menakutkan dari kusta adalah potensi merusak sehingga penyintasnya bisa mengalami disabilitas.
    Dan ternyata tidak semudah itu menularnya ya. perlu kontak yang lama.
    Edukasi semaca ini perlu dilakukan agar masyarakat tidak mudah parno.

  • Dyah ummu AuRa

    Pemberantasan kusta di Indonesia memang harus gencar dilakukan. walaupun beritanya senyap, kenyataannya angka penderita kusta masih cukup tinggi ya mbak. Padahal kusta adalah penyakit yang sangat bisa dicegah dan diobati.

  • Siti Nurjanah

    Informasi seputar kusta ini akan sangat baik jika terus di sharing terutama untuk masyarakat yang tinggal di daerah endemik
    Bagi penderita sejak dini harus memahami, memeriksa dan melakukan secara pengobatan secara tepat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *